CATATAN KURATORIAL

BANDUNG WORLD JAZZ  FESTIVAL 2010

SOUND THROUGH THE DIMENSION

MUTUAL PROJEK

      Musik itu sejajar dengan bahasa, dan setiap orang yang belajar musik  hendaknya berperan serta secara  langsung untuk mempelajari musik dari berbagai bangsa di dunia ini menyangkut teknik permainan,estetika, tabiat atau perilaku dan parameter-paremeter dari suatu gaya musik secara mendalam. Itulah teori  bimusicality, yang dikemukakan oleh Mantle Hood seorang ahli etnomusikologi  dari Amerika. Secara lebih jauh Alan P Merriam Dalam buku Anthropology of Music beliau mengusulkan bahwa mempelajari  tentang musik meliputi Instrumentations, word of song, native typology and clasificasion of music,role and status of musisician, function of music in relation to other aspect of culture and music as creative activity. Pendapat tersebut menunjukan bahwa apabila kita mempelajari musik secara mendalam  akan memperoleh hal yang sangat berharga menyangkut persoalan budaya, disamping penguasan permainan dari instrument yang dipelajari.

Budaya yang mempengaruhi karya

Bertahun-tahun yang lampau bahkan telah berabad-abad para komponis di eropa banyak mengambil materi dari berbagai belahan budaya dunia, tidak saja rasa musikal  yang mereka perlakukan sebagai materi secara instrumentalis pun hal itu dilakukan. Franz lisz  dalam karya Hungarian Rhapsodie menunjukan hal itu, George Bizet  dalam karya Carment, Rimsky Korsakov pada karya Capricio menunjukan keseriusannya  dalam irama kahasanah budaya spanyol. Para komponis modern  yang terlibat dalam perasaan musikal dari belahan musik dunia lainnya adalah Claudie Debusy, Maurice Ravel dalam karya Bolero, Stravinsky yang tergila-gila dengan irama folk Rusia. Yang lebih nyata lagi adalah Carlos Chaves dalam Simfonia Indian ia menggunakan ide musik dari Indian Mexico. Heitor Villalobos dan Silveltre Revueltes banyak memanfaatkan sejumlah besar irama dari Mexico yang notabene merupakan jenis musik bangsa Indian. Indonesia sebagai wilayah cakupan gagasan tidak pula ketinggalan memberikan jejak bagi para komponis modern, Colin Mcphee pada tahun 1930an telah mempelajari dan melakukan riset secara mendalam pada gamelan Bali. Hasilnya adalah ia berhasil menggubah sebuah karya musik dengan judul Tetabuhan yang sangat terpengaruh oleh  Gong Kebyarnya Bali. Mcphee menterjemahkan musik bali dengan gaya dan instrumentasi  sendiri (orkes tradisonil barat). Alan Hovnahess sangat terpengearuh kuat oleh musik India dan Armenia (karya The Healer,dan Khaldis). Soliloquy of Bhiksuni adalah salah satu usaha dari komponis China Chou wen Chun yang bekerjasama dengan Oliver Mesiaen komponis Perancis untuk mennggunakan Tala dari India (poli ritmik) dalam ide dan gagasan musikalnya. Sejauh ini beberapa komposer yang secara nyata tidak lagi menggunakan instrumen Barat dalam karya mereka dan hal ini sangat memberikan inspirasi bagi para komponis Indonesia,sebut saja Lou Harison yang secara nyata mengggunakan gamelan sebagai wilayah penuangan gagasan dan expresi musikalnya. Sebagai orang Amerika ia menggunakan seluas-luasnya karakter  gamelan jawa  dengan membuat variasi-variasi yang sangat unik, hal ini terlihat pada karya Pacifika Rondo dan Concerto in Salendro untuk violin, celesta dan orkestra perkusi sebagai sebuah komposisi yang terpengaruh oleh gamelan jawa. Semua hal tersebut diatas menunjukan bagaimana sebuah hasil budaya manusia mampu saling memberikan perhatian dan pada akhirnya hal tersebut berpengaruh besar dan mendorong seseorang (komponis) dapat saling berinteraksi untuk kemudian karya (musik) menjadi sebuah tawaran .

Persilangan

Sebagai sebuah kegiatan kreatif, pemusik membutuhkan rangsangan dari berbagai stimulus yang tidak saja datang dari komunitas sekitar ataupun dari proses berlatih secara bersama akan tetapi pencapaian tersebut dapat pula diperoleh dari persilangan antara musisi dengan musisi, komponis dengan musisi ataupun sebaliknya. Untuk pencapaian tersebut tentu saja diperlukan saling pengertian antara kedua belah pihak disamping sikap keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan dibangun sehinggga menghasilkan sebuah karya. Ada hal yang menarik dalam persoalan ini yaitu ketika bagaimana gaya minimalis lahir, sebagai sebuah gaya/alirania muncul dari sebuah rangkaian sejarah generasi sebelumnya. Ketika para komposer musik minimalis hadir sebagai mahasiswa musik pada tahun 50an mereka memiliki 2 kemungkinan alternatif aliran musik yang bisa mereka ikuti yaitu: Pertama,teknik 12 nada (serial) dari Arnold Schoenberg atau Anton Webern yang merupakan pintu masuk kepada serial musik, dimana aliran/gaya ini menunjukan sifat yang dogmatis,matematis,dengan arah pendekatan yang cenderung sangat rasional sehingga menghasilkan musik-musik dengan kecenderungan A tonal yang sangat kompleks. Kedua adalah, Chance music dengan pelopornya John Cage, gaya indeterminasiini memanfaatkan suara-suara alam, pengaruh Zen Budhis yang kemudian menjadi konsep musik Cage.Gaya ini lebih dekat pada Happening Art daripada musik sebagai sebuah karya. Lamonte Young,Terry Rilley kemudian Stevie Reich dan Philip Glass yang mempelopori penolakan terhadap ke 2 gaya tersebuat diatas, mereka beranggapan bahwa gaya serial 12 nada terlalu kompleks yang sesungguhnya tidak perlu, sedangkan indeterminasi dianggap terlalu bebas. Pengulangan-pengulangan yang menjadi ciri minimalis sesungguhnya telah muncul pula pada karya-karya musik sebelumnya seperti pengulangan melodi pada karya Boleronya Ravel, Vexations karya Erick Satie yang membuat pengulangan sebuah frase musik sebanyak 840 kali, John Cage dengan karya Music For Marcel Ducham dan Zadok the Priest karya Handel. Gaya ini seperti tersembunya dan tidak disadari oleh para komponis generasi selanjutnya hingga seperti lahir dan ditemukan kembali pada tahun 60an oleh para komponis minimalis diatas. Sebagai sebuah gaya yang lahir dan besar di Amerika tentu saja minimalis terpengaruh pula oleh musik popular pada saat itu yaitu Jazz. La Monte Young sebagai mantan pemain saxophone jazz sangat tergila-gila pada Charlie Parker, sehingga tidak mengherankan apabila harmoni, pola ritme jazz dan rock & roll menyusup mempengaruhi para composer minimalis, sehingga musik ini gampang dicerna tanpa perlu memikirkan kekomplekan elemen-elemen musik klasik sebelumnya. Gaya minimalis ini kemudian berkembang dengan baik dengan para pengikutnya seperti: John Adams,Meredith Monk, Laurie Andriessen,  Harry Part dll.

Dari beberapa ilustrasi diatas ada hal-hal yang bisa diambil seperti bagaimana penolakan dilakukan oleh oleh para komponis minimalis terhadap 2 pilihan gaya yang telah ada sebelumya, juga dengan ditemukannya kembali beberapa elemen musikal yang kemudian mendasari lahirnya gaya minimalis. Sebagai sebuah genre yang mapan pun sesungguhnya Jazz memberikan tawaran tersebut apalagi dengan segudang sub genrenya yang cukup luas dan menarik. Sebagai sebuah tawaran World Jazz merupakan menjadi sangat unik dan sangat layak untuk diperjuangkan untuk kemudian menjadi sebuah genre besar seperti minimalis. Peluang itu sangat terbuka karena keterbukaan jazz itu sendiri dan kekuatan sumber musikal yang kita miliki menjadi sebuah nilai tawar yang sangat baik sebagai media dialog budaya di ajang Internasional.Keberagaman etnik kita menjadi kekayaan yang sangat kuat untuk menunjukan sebuah ciri.

      Persilangan, pencampuran, kolaborasi,sinkretisme adalah sebuah peristilahan saja dalam musik, hal ini terjadi sejak bepuluh-puluh tahun ke belakang. Model seperti ini nampaknya juga memaknai dan mewarnai hampir disetiap tumbuhnya model musik yang muncul entah itu masuk ke dalam genre ataupun menyusup kedalam sub genre dari musik tersebut. Hal ini tentu saja menjadi suatu kekayaan dan dapat menjadi sebuah identitas baru bagi para musisi untuk dapat lebih berbicara jauh dan dapat menjadi sebuah identitas dalam sebuah dialog budaya global. Model seperti  ini bukanlah hanya sekedar perayaan atau uforia saja, akan tetapi dalam musik jazz keterbukaan dapat dimanfaatkan untuk mengusung sebuah wacana baru bagi pertumbuhan musik baru dalam mewujudkan identitas masing-masing lewat peristilahan tersebut diatas. Dengan mengangkat tema besar Sound Through the Dimension,karya  yang dihasilkan akan semakin kuat karena disitulah terjadi kesepakatan bunyi, dan hal itu akan melampaui semua batasan-batasan yang hanya mampu dinikmati dan dirasakan  oleh perasaan. Bunyi akan melampaui batas-batas dimensional,ruang dan waktu, wilayah, ras juga peradaban.

      Mutual Projek, adalah sebuah gagasan yang akan digulirkan pada perayaan Bandung World Jazz Festival 2010.Mutual projek adalah semacam projek bersama atau sebuah projek yang dibangun dengan asas saling pengertian, antara musisi, seniman, komponis untuk membuat/membangun sebuah komposisi baru dengan demikian diharapkan akan lahir keunikan dari karya tersebut, dan ini yang akan menjadi sebuah ciri dari BWJF2010. Pengertian-pengertian dibutuhkan dalam pola mutual ini seperti misalnya: bagaimana sebuah grup yang mapan dengan ciri musiknya membuat kolaborasi dengan seorang komponis atau bersilang dengan musisi dari disiplin yang lain. Membangun kesapahaman ritme, harmoni dll akan menjadi sebuah dialog penting guna melahirkan karya musik baru. 

      Mutual Projek, memberikan kebebasan kepada grup untuk mengajukan dengan siapa grup tersebut akan melakukan kerjasama dalam projek ini.

      Mutual Projek, tidak membatasi kepada grup yang sudah memiliki nama saja (dikenal) akan tetapi dipersilahkan untuk grup baru untuk mengajukan usulan untuk tampil di BWJF 2010 dengan terlebih dahulu mengajukan konsep.

      Mutual projek akan menghasilkan sebuah vibrasi diantara pemusik yang terlibat, dimana dari vibrasi tersebut akan membuahkan kesepahaman cita-cita untuk membangun dunia musik di Indonesia yang akan menjadi sebuah model bagi  perkembangan jazz dunia.

      BWJF 2010 akan diselenggarakan selama 2 hari dengan tema panggung yang berbeda dengan menampilkan 5 nama panggung dengan cirinya masing-masing yang dikemas dalam 3 buah panggung, akan tetapi tidak membedakan posisi dari keberadaan panggung tersebut.

Panggung 1. Adalah panggung dengan tema Mutual Sensation menampilkan grup yang melakukan projek antara grup dengan musisi solo, kebersamaan dalam membangun sensasi musikal akan menghasilkan keunikan tersendiri.Dipanggung ini ditawarkan Vicky Sianipar feat Soimah poncowati, Discus feat Euis Komariah, Sono seni Ansambel feat Tompi, Prabumi Feat Syaharani dll.

Panggung 2.Adalah panggung dengan tema Mutual Alteration, projek dialog bersama bagi sebuah grup untuk membuat sebuah perubahan dalam tema musik sehingga menghasilkan nuansa baru. Di panggung ini ditawarkan Saratus persen feat David Manuhutu, Karinding Colaborativ Projeck feat Tika & disident. Koko Harsoe Feat Iga Mawarni. Sada Feat Vincent MC Dermot/Sujiwo Tejo.dll

Panggung 3. Adalah panggung dengan tema Mutual Opinion Panggung ini akan memberikan kesempatan kepada 2 buah grup yang berbeda untuk saling bertukar pandangan dalam bermusik sehingga akan terjadi sebuah pandangan baru dengan tawaran komposisi baru. Dipanggung ini  ditawarkan Imam Pras quartet feat Qua Etnika, Imel Rosalin Feat Karinding Attack.Trio Ligro Feat Dodong kodir Ansambel, Soni Akbar trio feat Slamet Gundono.

Panggung 4.Adalah Panggung dengan tema Mutual Interpretation Panggung ini memberikan ruang sebebas mungkin bagi sebuah komunitas musik untuk bekerjasama dengan komponis secara individu untuk dapat membuat suatu karya bersama dan di sinipun ditampilkan musisi muda berbakat. Dipanggung ini ditawarkan Fonticello,JIP, Bigband, Pitulas Bary Likumahua dll.

Panggung 5 Adalah panggung dengan tema Mutual Expresion ,Panggung bagi para mahasiswa musik untuk saling bertukar pikiran dengan bunyi dan saling berbagi diantara mereka,serta mengusung expresi bersama dalam kaidah kebebasan jazz. Panggung ini terdiri dari: Jurusan Musik ISI Yogyakarta, UNPAS, UPH, IKJ, UPI, STSI, Sekolah Tinggi Musik Bandung. Dll..

Artis Line Up

Vicky Sianipar, Soimah Poncowati, Discus, Euis Komariah, Sono Seni Ansambel, Tompi, Prabumi, Syaharani, Balawan, Saratus Persen, David Manuhutu, Karinding Colaborative Projeck, Tika & The Dissident. Koko Harsoe, Iga Mawarni, Sada, Vincent MC Dermot, Sujiwo Tejo. Imam Pras quartet, Qua Etnika, Imel Rosalin, Karinding Attack, Trio Ligro, Dodong Kodir Ansambel, Soni Akbar Trio, Slamet Gundono, Gilang Ramadhan Trio, Fonticello, JIP, Bigband, Pitulas Bary Likumahua. (Indonesia) Banda Mantiquera (Brazil), Guy Strazzullo (Australia) Milagro Acustico (Italia) Joji Hirota & The Taiko Drumers (Japan), Francoise Atlan (France,Portugal,Spain), Fong Nam (Thailand) Liu Fang (Canada, China). 

Oleh : Djaelani, Kurator Bandung World Jazz 2009/2010. Fasilitator Jendela Ide,Dosen Musik UNPAS, TEMASEK Int School, Pemred .BDG WORLD JAZZ MAGAZINE.