Geliga

Geliga

November 23, 2009 · 4 comments

in Profiles

GELIGA di dirikan di Pekanbaru pada tahun 2002. Didukung oleh sejumlah musisi dengan latar belakang dan pengalaman, kelompok ini mencoba berangkat dari keinginan untuk mengangkat khasanah musik Melayu dengan memasukkan unsur-unsur jazz menjadi salah satu pilihan dalam kelompok ini” demikian dituturkan oleh Eri Bob pemain piano sekaligus leader dari Geliga saat menjawab pertanyaaan dari ‘host ‘ Jazz On Trijaya Adji Soebijantoro , Edisi Minggu 15 Juni 2008.

Arti Geliga: semacam “buntat” atau batu mustika yang memancarkan sinar dan kecermelangan. Dia menjadi idaman Melayu, sekaligus idaman kolektif. Siapa yang menyimpan mustika itu, dia bisa mengobati segala penyakit dan menghilangkan dahaga dan menghindari segala wabah dan bencana. Dalam ungkapan Melayu, “Otah anak ini bergeliga” : artinya pemikiran yang amat cemerlang dan merengkuh zaman. Geliga dalam musik, menurut Eri Bob ditafsirkan sebagai ungkapan nyanyian burung-burung yang be”Geliga”. Sebab ‘Ujar Athar’, seniman musik dan pelantun itu adalah jelmaan (Reinkarnasi) dari burung-burung. Entah burung apa……

Personil Geliga Band :
Eri Bob (Piano, Keyboard, Violin, Guitar on Rona Merona-Promised Lan)
Arman Rambah (Acordion)
Yusman Yahya (Saxophone)
Iwan (Guitar)
Ryan (Electric Bass & Fretless Bass)
Frankie (Drum)
Andi (Tabla)
MAt Rock (Bebano)
Siska ( Vocal )

GELIGA yang dipimpin sang pianis Eri Bob, menawarkan, ritme, melodi, harmoni, timbre, ekspresi dinamika serta tempo yang membuat jazz “menyatu” dalam cita rasa Melayu. Geliga juga menyodorkan struktur kompositoris yang variatif diantara format lagu-lagu tradisional khas Melayu yang dapat mudah ditemukan dalam langgam, senandung, joget, ghazal, zapin, lagu-dua, mak inang, donang saying ataupun chalti. Atau mengaplikasikan tehnik penciptaan dengan pola binary, ternary dan combinations pattern yang lazim.

Sekadar catatan perjalanan musik kelompok yang berdomisili di Pekan Baru ini adalah mereka telah tampil di Festival Zapin Melayu, Ratu Hitam-Putih Internasional, Satang-Sayang Selat, Festival Budaya Melayu se-Dunia, Sagang Award, event-event tersebut digelar di Indonesia dan Malaysia. Mereka juga tampil di Akademi Kesenian Melayu Riau, Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Padang Panjang, tampil pula di The World Malay Arts Celebration di Batam, dimana saat itu mereka berkolaborasi dengan ensemble tradisional bersama-sama dengan pianis jazz, Idang Rasjidi dan gitaris, Agam Hamzah.

Geliga sejatinya telah merilis debut album rekaman di tahun 2005 silam bertajuk, GELIGA-Instrumental Jazz Melayu Riau, yang rekamannya dilangsungkan di Pekan Baru. Kemudian proses mixing dan mastering dilakukan di Synchrosound, di kawasan Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Album perdana tersebut memuat 12 lagu, karya Eri Bob, sang leader dan keyboardist kelompok ini. Kabarnya album tersebut cukup direspon positif publik pencinta musik Malaysia, dan ironisnya sejauh ini terasa lebih positif dari respon penggemar musik tanah air.

Berikutnya Geliga merilis album “dang bulan nan julang “ Melayari dan melayani wilayah eskatologis dalam simpai Melayu dan hidangan “teks” mengenai wliayah eksotorik; menjadi muatan utama album Geliga bertajuk Dang Bulan Nan Julang . Seakan hendak melayari bentangan samudra maha luas, geliga sebuah noktah yang berpayung bulan, bergulung ombak, menerkam kedalam segara, menjilat langit. Semuanya dihajat sebagai Ikhtiar untuk memanjakan kehidupan demi melayani kemanusiaan yang hakiki. Bahwa Jazz dan Melayu ialah sebuah cara melayani, jalan memanjakan kehidupan, metode merawat segenap kehidupan dalam bentang biotop maha luas. Berlapis-lapis dan berlapis. Walau semua berawal dan berakhir dengan diam. Di antara diam, tersedia ruang-ruang yang mesti diisi; dengan bunyi, suara, warna, garis, kala dan ketika. Geliga mengisi seluruh sisi nadi. Lebih Lanjut Eri Bob di Jazz On Trijaya mengatakan “Musik Geliga juga menjadi referensi pada Jurusan musik STSI Padang Panjang dan Jurusan Etnomusikologi Universitas Nommensen, Medan”

Umumnya, lagu-lagu yang ditampilkan Geliga di dominasi oleh musik Melayu baik notasi maupun ritmenya. Namun, lagu-lagu itu kemudian coba diusung dengan memasukan sentuhan Jazz yang memberi kemungkinan keleluasaan berimprovisasi.

{ 4 comments… read them below or add one }

1 riyo December 2, 2009 at 2:19 am

semangat trus geliga,khusus nya buat master iwan

bangkitkan trus jazz pekanbaru

2 Ajidsejangat December 8, 2009 at 9:36 pm

Kami tunggu album baru nyo kat kampong

3 fajar kurniawan February 8, 2010 at 10:44 am

mantap cock kali ama kita yang orang riau…. salam u om yusman,,,,dah lama banget ga ketemu om sejak 1998…..

4 fajar kurniawan February 8, 2010 at 10:45 am

satu lagi… dimana bisa dapat album geliga ni?????

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Previous post: Debu

Next post: Saratuspersen