Post image for Debu

Debu

November 23, 2009 · 0 comments

in Profiles

“DEBU ?..” Pertanyaan ini banyak dilontarkan pada kami. Mereka bilang, grup musik sebesar ini, koq namanya “DEBU”. Bagi kami, itu tidak aneh. Secara maknawi, nama itu sudah menjadi identitas kelompok kami sejak di New Mexico sana. Saat itu, Syekh Fattaah sebagai pelopor dan pendiri memberi nama kelompok ini “Dust on the Road”, atau debu di jalanan. Personilnya, tentu saja tidak seperti sekarang. Saat itu, sebagian dari kami masih kanak-kanak. Jadi, bisa dibilang bahwa para pemain ”Dust on the Road” atau ”Dust” saat itu adalah para orang tua kami, yakni generasi pertama kafilah ini. Bahkan, Syekh Fattaah sering kali menjadi vokalisnya.

Setelah di Indonesia, kami menyelaraskan nama kelompok ini sesuai dengan ejaan dan bahasa Indonesia, yakni DEBU. Nama yang indah. Sederhana dan mudah diingat. Formasinya pun berubah sama sekali. Ada regenerasi di sini. Dengan sendirinya, dinamika DEBU sekarang berada di generasi kedua.

Secara formasi, DEBU memang telah berbeda dengan Dust, pun dalam hal komposisi. Sekarang ini, Syekh Fattaah lebih sering membuat syair-syairnya dalam bahasa Indonesia. Namun, satu hal yang masih menjadi ciri dan prinsip bagi DEBU adalah, bahwa musik dan nyanyian yang dilakukan hanyalah media untuk dakwah dan
syiar ilmu-ilmu Islam, yakni ilmu lahir dan bathin.

Musik yang dimainkan DEBU kaya nuansa dan warna. Tak ada konsep tertentu yang mengikatnya, karena itu musik DEBU amat bervariasi dan tidak membosankan. Di dalamnya ada dentam rebana yang kuat, yang lembut, ada lengkingan seruling yang menggugah, kadang-kadang iramanya mengingatkan pada nuansa padang pasir, country, bahkan jazz dan world music. Satu yang sudah jelas musik DEBU adalah universal. Dapat diterima di semua kalangan mana pun, kapan pun, di mana pun di seluruh dunia, tanpa melihat perbedaan-perbedaan.

Bukan cuma suara indah dan merdu yang menjadi andalan, tetapi juga kepiawaian memainkan alat musik. DEBU menggunakan beraneka alat musik dari belahan dunia yang berbeda. Santur dari Iran, misalnya, atau harpa, atau alat musik khas Irlandia, yaili tambur dari Turki, gendok-gendok dari Sulawesi Selatan digabungkan dengan harmonis bersama biola, bass dan berbagai jenis perkusi dan drum.

Di tengah kegelisahan zaman, DEBU berharap musik yang mereka mainkan dapat menjadi setetes embun penyegar bagi semua golongan tanpa membedakan ras atau kelas. DEBU bukan kelompok yang eksklusif. DEBU hadir dalam keramahan semangat Islam yang Rahmatan Lil ’Alamin. Musiknya dapat memberikan inspirasi yang lebih jauh daripada sekedar kenikmatan mendengar karena ia adalah zikir, berzikir bersama DEBU bisa dilakukan di mana pun, di mobil, di kantor, bahkan di dapur ketika memasak.

Warna Musik : World Fusion, campuran Etnik Barat dan Timur. Terinspirasi banyak oleh irama dan musik Timur Tengah dan Asia.

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Previous post: Koko Harsoe

Next post: Geliga